Connect with us

Hasan Mumu Muhtar

Hasan Mumu Muhtar

Banjir Jangan Jadi Rutinitas

Berita

Banjir Jangan Jadi Rutinitas

Musim penghujan dengan intensitas tinggi kali ini di mulai dari awal tahun 2020, tepat 1 Januari 2020 terjadi hujan dengan debit yang luar biasa tinggi, hujan yang terjadi belasan jam tersebut menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di beberapa Provinsi serta Kota Besar termasuk Kota Satelit JABODETABEK.

Banjir sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, hampir di semua Kota Besar rawan bencana banjir, seakan memang Negara ini dari awal sistem penataan kotanya tidak siap untuk mencegah banjir. Banjir seperti memiliki siklus, bahkan yang terkenal adalah siklus banjir besar lima tahunan. Ini menarik karena siklus banjir seperti siklus politik di Indonesia, dimana Demokrasi Politik di Indonesia terjadi lima tahunan. Padahal sudah ada siklus dan banjir terkesan menjadi agenda rutin, sayangnya fenomena rutin banjir besar tersebut tidak menjadi bahan evaluasi secara maksimal untuk solusi pencegahan dan penanganan bencana banjir.

Pencegahan dan penanganan banjir tentu terkait tata kelola dan sistem perencanaan pembangunan Kota.Tata kelola dan sistem pembangunan kota adalah wewenang Kepala Daerah, dan seperti siklus banjir besar pergantian Kepala Daerah terjadi lima Tahunan sekali pada tingkat Provinsi pemilihan Gubernur dan Tingkat Kota / Kabupaten pemilihan Walikota / Bupati.

Pencegahan dan penanganan banjir bahkan sering masuk pada program kerja dan janji kampanye pada moment politik lima tahunan. Setiap lima tahun sekali janji tinggalah janji, banjir tetap terjadi, siklus banjir berulang dan siklus politik Kepala Daerah juga berulang, semua hanya jadi sekedar agenda rutin. Bahkan peringatan dini pencegahan bencana banjir saja sistemnya tidak terbangun, bencana banjir bisa di minimalisir jika saja masyarakat siap dan tanggap setelah ada peringatan dini.

Banjir sudah terjadi, para Kepala Daerah dengan berbagai cara dan karakternya turun dalam penanganan banjir. Cara paling mainstream para Kepala Daerah adalah kunjungan ke titik – titik lokasi, sekedar menyapa warga dengan pemanis memberikan bantuan langsung. “Besok banjir lagi datang lagi yaaa pa!” Karena itu hanya sekedar rutinitas menggugurkan kewajiban.

Banjir seakan jadi moment politik Kepala Daerah, dengan pilihan turun kelapangan juga mendapat resiko tidak populis. Banjir juga akhirnya menjadi standart penilaian kinerja Kepala Daerah, peran media cetak dan televisi sangat berpengaruh dalam memberikan informasi hingga masyarakat dapat terjun bebas memberikan penilaian. Rakyat tidak butuh framing media, kita hanya ingin banjir tidak menjadi rutinitas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

# Keyword

Facebook

Instagram

Instagram did not return any images.

Follow Me!

To Top