Connect with us

Hasan Mumu Muhtar

Hasan Mumu Muhtar

Golkar Dengan Falsafah Wasathiyyah

Berita

Golkar Dengan Falsafah Wasathiyyah

Lama tak terdengar nama ulama-politisi ini di kancah politik praktis. Terakhir ketika tiba-tiba dirinya menyatakan mendukung Jokowi 2 periode, sempat menjadi isu hangat di tengah masyarakat.

Setelah Joko Widodo menunjuk KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya, nama Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi memang sempat meredup, tetapi kini muncul dengan berganti ‘baju’ ideologi politik.

Sejak dukungannya kepada Jokowi beberapa waktu lalu, ideologi politik TGB memang sudah ‘kuning’. Hal itu karena dirinya tak lagi sejalan dengan ‘baju biru’ kepolitikannya di Partai Demokrat, sekalipun parpol ini mengantarkannya duduk menjadi penguasa di Nusa Tenggara Barat.

Tak hanya itu, soal ideologi keagamaan yang dianutnya, TGB cenderung tawasuth (tengah-tengah, moderat). Pemikiran seperti itu kurang diterima oleh arus deras pemikiran yang ‘ketat’ dan sulit juga bergabung dengan kelompok yang cenderung berpikiran serba ‘longgar’.

Pilihan TGB untuk bergabung dengan Partai Golkar sekaligus menjelaskan kepada publik bahwa sudah sejak dulu sebenarnya ia memang berideologi politik ‘kuning’. Secara politik mungkin dapat dijelaskan.

Golkar sekalipun lahir dari rezim yang sempat digulingkan oleh semangat reformasi, tapi memiliki sumber daya yang multikultural baik secara ideologi keagamaan maupun politik.

Keberadaan Golkar dipandang tidak ‘hijau’ dan tidak ‘merah’, bahkan ‘putih’ pun tidak. Inilah barangkali yang menjadi alasan kuat, kenapa TGB tampak lebih nyaman memilih Golkar dibanding parpol lainnya yang mungkin saja cenderung ketat terhadap warna”kepolitikannya.

TGB menyebut bahwa Partai Golkar merupakan wujud partai tengah yang kokoh. Ia juga meyakini betapa pentingnya bersikap moderat bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan membuatnha meniti karir politik kembali dengan warna baru.

Pria yang menjabat Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) yang ditunjuk menggantikan Quraish Shihab pada Oktober 2017 lalu, tidak hanya sosok politisi ulung, tetapi juga ulama yang berdidikasi terhadap perkembangan dan kemajuan Islam Indonesia.

Pilihan Quraish Shihab yang langsung menunjuk TGB untuk menggantikannya bukan semata-mata karena soal kedekatan pribadi, tapi yang pasti TGB merupakan sosok ulama yang memiliki pengetahuan yang cukup luas terhadap seluk-beluk ajaran Islam.

Karir akademisnya sejak S1 hingga S3 diselesaikan secara sempurna di Universitas Al-Azhar Mesir yang juga dikenal berbasis ideologi pemikiran Islam yang moderat.

Hal yang menarik adalah karir politik bagi seorang yang mengenyam pendidikan Timur Tengah dipastikan nyaman berada dalam parpol yang berwarna ‘hitam-putih’, hampir tak pernah melirik kelompok berideologi politik ‘hijau’.

Lain halnya dengan TGB, yang walaupun ia merupakan ‘aktivis’ Timur Tengah, tetapi sejak awal malah lebih memilih bergabung ke Demokrat. Bukan PKS, PPP, dan PKB.

Inilah kecenderungan sikap moderat TGB yanh kemudian kian menemukan momentumnya, saat ia memilih Partai Golkar sebagai kendaraan politik terbarunya.

Berarti, tak salah jika memang sudah sejak dulu ideologi politik TGB sudah ‘kuning’. Keberadaan TGB di jalur politik tentu saja memiliki tujuan dan utamanya, yakni ‘kuningisasi’.

Sebab walau bagaimanapun, banyak diantaranya yang terjebak dalam ‘fanatisme warna’, sehingga pada akhirnya cenderung ‘homogen’ dalam berbagai sikap politiknya.

‘Kuningisasi’ yang dimaksud tentu saja berbeda dengan konsep ‘kuningisasi’ era Orde Baru yang menuntut seluruh kawasan dicat warna kuning, atau memaksa para pekerja pemerintah ‘berbaju’ kuning. Karena jika tidak, maka harus siap-siap wilayah mereka terabaikan dalam setiap proses pembangunan.

‘Kuningisasi’ ala TGB bertujuan bagaimana merefleksikan sikap politik secara moderat dan benar-benar berupaya mengajak seluruh elemen masyarakat agar selalu mengedepankan sikap moderasi, baik dalam berpikir dan bertindak.

Sejauh ini, tampak sekali betapa masyarakat terkotak-kotakkan akibat polarisasi politik, sehingga sikap moderat dalam berbagai hal dianggap tak relevan, bahkan diacuhkan.

Bergabungnya TGB ke Partai Golkar selain menjadi tambahan amunisi politik bagi elektabilitas parpol berlambang beringin ini, juga penegasan sikap politik dirinya untuk berjuang membangun masyarakat muslim Indonesia yang ramah, toleran, dan tentu saja selalu berada di ‘jalur tengah’ dalam hal ideologi politik maupun keagamaan.

TGB selalu memandang penting sikap moderat yang ditunjukkan melalui sekian banyak prestasi dan keberhasilannya membangun NTB dengan tanpa memunculkan ‘gesekan politik’ sedikit pun.

Keberhasilan menjaga keseimbangan masyarakat melalui kematangan dan kedewasaan dalam sikap toleransi antarumat beragama, menjadi salah satu contoh dari upaya keras TGB menumbuhkan moderasi di daerahnya.

Maka, jangan terburu-buru untuk menilai TGB sebagai ‘politisi kutu loncat’ yang berpindah dari satu parpol ke parpol lainnya dengan alasan mengharap kekuasaan.

Sikap politik pribadinya yang mendukung Jokowi di ajang kontestasi politik, seharusnya tidak dipandang sebagai sikap nyeleneh dari Partai Demokrat yang tampak berseberangan.

Perhitungan politik TGB mendukung Jokowi tentu saja telah dipertimbangkan secara matang dengan segala konsekuensi yang bakal diterima.

Arus kuat ‘politisasi agama’ yang sangat mengganggu iklim politik, justru berhasil mengeluarkan TGB dari kungkungan itu, sekalipun konsekuensi yang harus diterima tentu saja tuduhan-tuduhan menyakitkan dari publik.

Oleh sebab memilih dan bergabung ke dalam Partai Golkar, tentu saja ia sedang membangun image politiknya sendiri. Selain itu, ia juga melepaskan dirinya dari berbagai tuduhan politik yang kurang mengenakkan.

Dan, setidaknya ada empat alasan yang diungkapkan TGB untuk memutuskan diri berhijrah ke Partai Golkar.

1. Membangun Indonesia dengan Islam Wasathiyah (moderat)

Ulama kharismatik yang dikabarkan hafiz Qur’an ini ingin membangun Indonesia dengan Islam Wasathiyah.

“Bagi saya membangun Indonesia adalah tentang ber-fastabiqul khairat, berlomba dalam kebajikan dengan prinsip falsafah jalan tengah wasathiyyah atau moderasi,” kata TGB melalui keterangan pers resmi, Jumat (21/12/2018), dikutip dari TribunNews.

Menurutnya, Golkar merupakan partai politik yang tepat untuk meneruskan cita-cita tersebut.

2. Golkar Merawat Nilai Baik dan Meninggalkan Hal Negatif

TGB melihat Partai Golkar telah berusaha bertransformasi dengan merawat nilai baik sekaligus meninggalkan hal-hal negatif.

“Saya menangkap semangat ishlah itu dan saya ingin menjadi bagian dari institusi yang transformatif itu,” kata TGB.

Semangat transformasi tersebut, lanjutnya, sangat diperlukan bangsa Indonesia dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat di seluruh bidang.

3. Golkar Mendukung Jokowi di Pilpres 2019

Ia memilih Golkar karena secara pribadi mendukung Presiden Joko Widodo yang akan menjabat untuk periode kedua.

“Dukungan ini saya harapkan bergulir secara kelembagaan melalui Partai Golkar yang, dalam pandangan saya, dengan konsep kekaryaannya sangat sebangun dengan semangat Pak Jokowi dalam membangun Indonesia,” katanya.

Begitu gabung ke partai berlambang beringin itu, ia langsung diamanahkan untuk menduduki posisi dua jabatan sekaligus. Selain sebagai Koordinator Bidang Keumatan DPP Partai Golkar, TGB juga menjabat Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP Partai Golkar.

4. Suka-suka yang nulis lah.

Golkar kan nomer empat, jadi alasannya dibikin empat. Masalah?

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

# Keyword

Advertisement
To Top